DPRD - Pemko Bukittinggi Bahas Masalah Air Bersih (Antara Sumbar)Tanggal : 15 March 2011
Bukittinggi, (ANTARA) - DPRD bahas persoalan ketersediaan air bersih bersama Pemko Bukittinggi dengan menghadirkan jajaran direksi Perusahaan Air Minum Daearah(PDAM), Selasa (15/3). Pembahasan yang dilaksanakan pada ruang utama sidang dewan dipimpin Ketua Komisi B DPRD, Yon Trimansyah dan dari esekutif dihadiri Asisten III, Ismail Johar, Dinas Pekerjaan Umum (PU), Zet Buyung. Pembahasan masalah air bersih yang telah menjadi keluhan warga Bukittinggi sejak tahun 1985 ini, telah melakukan sejumlah usaha untuk bisa terpenuhi kebutuhan air bersih 300 liter perdetik di kota wisata ini. Diantaranya, pemko (PDAM) telah melakukan upaya pencarian sumber air baru di Sungai Sariak, Kabupaten Agam, sebagaimana disampaikan Atrizal, Direktur PDAM, Atrizal. Disamping itu, Kepala Dinas PU, Zet Buyung, menyebutkan, PU telah juga membuat sumur bor seperti di Daerah Palolok, Belakang Balok. Hanya saja, usaha telah dilakukan ternyata kurang berjalan maksimal. Sehingga, pasokan air masih saja tidak mampu memenuhi kebutuhan warga. Air bersih yang dikelola PDAM ini, hanya mampu memenuhi kebutuhan warga Bukittinggi 200 liter perdetik, sehingga berkurang 100 liter perdetik dari kebutuhan seharusnya 300 liter perdetik. Kebutuhan air bersih 300 liter perdetik dan terjadi kekurangan 100 liter perdetik ini, usaha mencari sumber air bersih baru di Sungai Sarik yang bisa menutupi kekurangan itu, dalam rapat terungkap masih belum bisa terealisasikan. Hal itu karena kurang mendapat persetujuan dari warga sekitar, serta disebabkan sejumlah faktor lainnya. Sedangkan, pasokan dari sumur bor yang berpotensi sedikit bisa menutupi kekurangan air bersih bagi warga Bukittinggi, pemko dihadapkan dengan permasalahan tingginya biaya operasional dari sumur bor itu. Sebagaimana disampaikan, Asisten III, Ismail Johar, yang menyebutkan, dibutuhkan biaya tinggi untuk menaikkan air dari dasar tanah, seperti tenaga listrik yang cukup besar. Menurut dia, usaha untuk bisa memenuhi kebutuhan air kepada warga Bukittinggi, segala upaya telah dilakukan hanya usaha istiqomah--meminta titik sumber air kepada pencipta--belum dilakukan Pemko Bukittinggi. Anggota DPRD, Uneva Hariyanto, menyebutkan, kalau analisis teknis ekploitasi air oleh Pemko (PDAM) tidaklah matang dilakukan, dan pada akhirnya usaha itu hanya telah menghabiskan dana. Kata dia, pencarian sumber air tanah harus dikaji dengan matang, yang pada akhirnya tidak membutuhkan biaya besar. Menyusul sistem gratifikasi dilakukan untuk mengangkat air dari dasar tanah, sudah ada Benteng Fort Dekock yang dibuat Negara Belanda, dimana ada bak penampungan air dibangun waktu menjajah Indonesia, yang bisa sebagai sistem gratifikasi. (ham/wij)
Sumber : www.antara-sumbar.com
|